Di tebing pantai yang menjulang curam, deburan ombak menghantam karang dengan suara menggema, bercampur dengan tiupan angin asin yang menusuk hingga terasa ke tulang. Burung-burung laut berputar di langit kelabu, sayap mereka membentuk garis-garis hitam yang sesekali lenyap dalam kabut tipis yang naik dari laut.

Di bawah tebing itu, tersembunyi sebuah gua yang pintunya tertutup sebagian oleh batu-batu runcing dan lumut hijau yang licin. Dari dalam gua, cahaya oranye redup berkelip, menari di dinding basah yang berkilau. Api kecil menyala di atas tumpukan kayu kering, asapnya melayang pelan mengikuti aliran angin laut.

Seseorang duduk bersila di dekat api itu. Wajahnya remang, hanya sesekali terungkap ketika lidah api melompat lebih tinggi. Di tangannya, sebilah kayu menusuk seekor ikan laut yang perlahan menghitam, mengeluarkan aroma gurih yang bercampur garam laut. Suasana hening, hanya ada suara api berderak dan ombak yang tak pernah berhenti menghantam tebing di luar sana.

Sosok itu adalah Channa Satu. Ia duduk diam, matanya terpaku pada nyala api yang memantul di irisnya yang tajam. Tubuhnya masih menyimpan bekas luka pertempuran, garis samar yang membekas di kulitnya menjadi bayangan masa lalu.

Pemulihan tubuhnya berjalan lambat menurut standar kekuatan besar yang ia miliki, namun dibandingkan manusia biasa, kecepatannya jauh melampaui batas wajar. Setiap helaan napasnya membawa hawa panas dari dalam tubuh, seolah api kehidupan yang padam kini kembali menyala di nadinya.

Saat sinar matahari menyusup dari celah sempit di mulut gua dan menyentuh kulitnya, energi itu meresap perlahan, seperti aliran hangat yang mengisi pori-porinya. Urat-urat biru tipis di bawah kulitnya berdenyut, menyalurkan kekuatan baru yang bangkit dari dalam. Ia merasakan darahnya semakin pekat, tulangnya semakin padat, dan ototnya makin liat.

Dengan gerakan perlahan, ia memutar ikan yang dibakarnya, aroma asin dan gurih memenuhi gua. Suara api berderak menjadi irama sunyi bagi pemulihannya.

"Dunia para kultivator ini sungguh aneh. Aku bisa merasakan energi luar biasa di sekitarku. Andai aku tahu bagaimana cara menyerap energi itu, kekuatanku pasti akan meningkat jauh lebih cepat," gumamnya pelan, tatapannya tidak lepas dari nyala api.

Pikirannya melayang, mengingat lawan-lawannya. Orang-orang yang dulu ia pandang lemah ternyata mampu menjatuhkannya dengan mudah. Mereka juga bisa terbang, mampu bergerak cepat dan mereka bisa memanggil kekuatan dahsyat. Keberadaan mereka persis seperti data yang di terimanya dari laporan Kanaya. Namun data itu tidak menunjukkan jika kekuatan dirinya belum mampu mengalahkan orang-orang di dunia ini sehingga dia harus mengalami kekalahan di pertarungan pertama. Yang lebih mengejutkan, musuh utama komandan Vex yang seharusnya ada di benua Tianzhou justru ada di benua ini, dan secara tidak langsung telah menyelamatkannya.

"Tubuhku sudah pulih. Setelah menghabiskan ikan ini, aku harus kembali ke benua Tianzhou dan menemukan cara menghubungi komandan Vex. Mereka harus tahu bahwa Lynx berada di benua Nanhuang," batinnya sambil menggigit daging ikan panggang itu."Mereka juga harus tahu jika Lynx memiliki pakaian tempur yang memberinya kekuatan."

Sebagai manusia yang berasal dari dunia berteknologi tinggi, Channa Satu bisa membedakan dengan mudah pakaian tempur yang di gunakan Lynx. Perbedaan teknologi yang sangat kontras dengan benda-benda yang berasal dari dunia ini.

***

Langit di atas Desa Linxi bergemuruh, awan berputar liar tersedot ke titik hitam pekat. Pusaran itu menyatu, membentuk portal kecil menyerupai lubang hitam yang menelan cahaya di sekitarnya. Burung-burung yang sedang terbang panik berhamburan, jeritan mereka terputus ketika arus angin kuat menyeret bulu-bulu halus masuk ke pusaran. Dari celah itu, cahaya keemasan redup berpendar, lalu seorang wanita perlahan melangkah keluar.

Tubuhnya tegap, seolah setiap gerakannya sudah ditempa latihan bertahun-tahun. Kulitnya putih kontras dengan celana pendek dan tank top ketat yang melekat di tubuhnya. Sepasang sepatu bot tinggi menutupi kakinya, ringan tapi jelas dibuat untuk bergerak cepat. Di pahanya terikat sebuah tongkat kecil, sementara di lengan kirinya melingkar gelang logam berkilau redup yang menjadi alat komunikasi sekaligus menyimpan fungsi tersembunyi. Di sabuknya, beberapa benda berbaris rapi, senjata pamungkas yang bisa ia gunakan kapan saja.

Rambutnya pirang pendek, berkilau pucat diterpa sisa cahaya portal yang masih berputar di belakangnya. Tatapannya tajam, mata kanan menyorot tenang, sementara di mata kirinya terpasang kacamata tipis dengan lensa hijau redup. Dari sana, cahaya holografik muncul, menampilkan grafik, garis data, dan angka yang bergerak cepat di udara.

Dari penampilannya, jelas wanita itu bukan bagian dari dunia ini. Ia dikirim dengan misi khusus, memperkuat diri hingga menjadi manusia super terkuat di seluruh dimensi. Sinar matahari menyinari tubuhnya, membuat uap tipis keluar dari pori-porinya, sisa energi berlebih yang diolah tubuhnya.

Ia menunduk sedikit, menatap ke bawah. Desa Linxi terbentang, rumah-rumah kayu sederhana berderet, manusia lalu lalang tanpa menyadari bahaya yang baru saja lahir di atas mereka. Dari lensa hijau di matanya, setiap sosok memunculkan indikator tipis, garis energi yang menandakan kekuatan masing-masing. Ada yang nyaris tak terdeteksi, ada pula yang berpendar samar, membentuk peta kekuatan tersembunyi.

Kacamata ini adalah ciptaan baru Dokter Zhang, hasil penelitian yang berhasil dibuat berdasarkan data yang mereka dapatkan sejak kemunculan Channa Satu di dunia kultivator hingga ia menghilang tanpa jejak. Dengan teknologi ini, pemakainya bisa melihat pancaran energi yang tak kasat mata dan menilai kekuatan lawan bahkan sebelum pertempuran dimulai.

Wanita itu mengangkat dagunya sedikit, sudut bibirnya menekuk tipis. Dalam tatapannya, Desa Linxi bukan sekadar desa, melainkan papan catur dengan bidak-bidak tersembunyi.

"Posisi Channa Satu terakhir terbaca di koordinat ini," ujarnya pelan, lalu mengaktifkan gelang komunikasinya. Hologram menyala, menampilkan wajah seseorang.

"Komandan Vex, aku sudah menyeberang," lapornya dengan nada datar.

"Bagus Freya. Temukan Channa Satu lebih dulu dan serap kekuatannya. Setelah itu jalankan rencana. Serap kekuatan para kultivator di dunia itu dan jadikan dirimu semakin kuat. Setelah itu, bunuh pria bernama Lynx," perintah Komandan Vex tegas, sementara di sisinya berdiri Kanaya dan Dokter Zhang, mengamati laporan itu dengan seksama.

Freya, atau Channa Lima, adalah manusia super generasi kelima. Ia lahir beberapa hari setelah Channa Satu menggunakan pil dengan formula yang berbeda. Sama seperti Channa Satu, Freya adalah salah satu tahanan pemerintah bernama asli Yanti yang mendapatkan hukuman mati. Oleh Kanaya, dia dipilih untuk mengikuti program manusia super dan mencuci otaknya agar menurut dengan perintah dari mereka. Dari puluhan pil manusia super yang dibuat, Komandan Vex hanya berhasil menciptakan empat manusia super lain setelah Channa Satu, karena bahan utama pembuatan pil terbatas dan tidak semua manusia sanggup menahannya.

Dalam uji coba pertarungan, Freya menghancurkan tiga pendahulunya berkat sel genetika asing yang ditanamkan ke dalam pil yang dikonsumsinya. Ia mampu menyerap energi dari makhluk lain. Saat uji coba pertarungan itu, tanpa terduga, tubuhnya mengeluarkan tentakel yang menembus Channa Dua, Tiga, dan Empat, lalu menyerap energi kehidupan sekaligus esensi mereka.

Komandan Vex terkejut namun puas. Ia menamai ciptaan itu Freya, lalu memuji keberhasilan Dokter Zhang. Dengan kacamata baru yang mampu menganalisa energi, mereka menyadari kekuatan Freya berkembang cepat setiap kali menyerap manusia super lainnya. Namun saat dia mencoba menyerap tubuh metahuman, kekuatan yang di serap hanya mengalami sedikit peningkatan. Dari analisa mereka, diperkirakan kekuatan Freya hanya bisa meningkat besar saat menyerap tubuh yang memiliki energi kuat seperi manusia super lainnya, termasuk para kultivator. Tanpa ragu, Komandan Vex mengirimnya ke dunia kultivasi dengan misi menyerap kekuatan Channa Satu dan para kultivator di sana.

Freya mengaktifkan pelacak untuk memeriksa posisi Channa Satu. Dari lensa hijaunya, titik keberadaan target muncul jelas. Ia tersenyum tipis.

"Semut-semut kecil di bawah ini tidak boleh dibiarkan. Mungkin ada di antara mereka yang sudah melihat kehadiranku," ucapnya, suaranya dingin.

Ia mengambil salah satu benda dari sabuknya. Setelah menekan tombol, ia melemparkan benda itu ke bawah.

